Lewati ke konten utama

BhumiNews

Jurnalisme untuk Bumi yang Lebih Baik

← Karhutla

Dampak Karhutla

Dampak Karhutla bersifat sistemik dan meluas. Dampak jangka panjang hingga merusak tatanan ekosistem alam, mengancam keselamatan makhluk hidup, serta melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Topik ini mengupas tuntas kerugian ekologis, krisis kesehatan publik dan ancaman terhadap satwa liar. Selain itu, topik ini juga membahas kelumpuhan ekonomi akibat kabut asap karhutla.

Diperbarui ·1 artikel

Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bukan sekadar peristiwa terbakarnya sebidang tanah atau pepohonan di tengah hutan. Dampaknya bersifat sistemik, meluas, dan jangka panjang hingga merusak tatanan ekosistem alam, mengancam keselamatan makhluk hidup, serta melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Kerusakan Ekosistem dan Hilangnya Habitat Satwa

Suhu panas ekstrem dari api yang membakar lantai hutan dan lahan gambut menghancurkan materi organik serta membunuh mikroorganisme penting di lapisan atas tanah. Lebih parah lagi, musnahnya tutupan hutan merusak koridor alami dan tempat tinggal satwa liar.

Ketika habitat mereka dilalap api, satwa liar terpaksa keluar dari kawasan hutan dan kerap masuk ke area perkebunan atau permukiman warga demi menyelamatkan diri atau mencari sumber makanan, yang berujung pada konflik mematikan antara manusia dan satwa.

Studi Kasus: Ancaman Nyawa Satwa Liar

Dampak nyata dari krisis ekologis ini terlihat jelas pada kasus-kasus darurat satwa terdampak asap pekat. Sebagai contoh, seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di kebun sawit warga di Desa Laman Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, akibat terpapar asap pekat karhutla. Kasus seperti ini menegaskan bahwa karhutla membawa malapetaka masif bagi kelangsungan hidup satwa yang dilindungi.

Krisis Kesehatan Masyarakat dan Ancaman ISPA

Asap hasil pembakaran hutan dan lahan gambut kaya akan partikulat berbahaya berukuran sangat kecil (seperti PM2,5) serta gas beracun semacam karbon monoksida dan sulfur dioksida.

Ketika terhirup, partikulat mikro ini mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga aliran darah manusia. Hal ini memicu lonjakan drastis pada kasus:

  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Menyerang ratusan ribu warga di wilayah terdampak parah seperti Sumatera dan Kalimantan.
  • Penyakit Kardiovaskular: Memperparah kondisi penderita asma, bronkitis kronis, serta memicu gangguan jantung bagi kelompok rentan (anak-anak dan lansia).

3. Kelumpuhan Ekonomi, Transportasi, dan Pendidikan

Kabut asap tebal (*transboundary haze*) yang menurunkan tingkat jarak pandang (visibility) secara drastis berdampak langsung pada sektor publik dan industri:

  • Sektor Transportasi: Banyak jadwal penerbangan di bandara regional mengalami penundaan (*delay*) hingga pembatalan total demi menghindari kecelakaan navigasi akibat jarak pandang yang buruk.
  • Aktivitas Belajar dan Bekerja: Pemerintah daerah kerap terpaksa meliburkan sekolah atau menerapkan sistem belajar jarak jauh demi melindungi kesehatan anak-anak dari paparan polusi udara beracun.
  • Kerugian Finansial Makro: Menurunnya produktivitas tenaga kerja, biaya pengobatan massal, serta kerugian dari rusaknya aset perkebunan dan infrastruktur logistik darat.

Artikel dalam topik ini