Lewati ke konten utama

BhumiNews

Jurnalisme untuk Bumi yang Lebih Baik

Nature

El Nino: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Status Terkini 2026

El Nino: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Status Terkini 2026
El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menyulitkan proses pemadaman di berbagai wilayah. Fenomena ini kembali menjadi perbincangan sepanjang 2026 karena kemarau di Indonesia terasa jauh lebih kering dan panjang dibanding biasanya. El Nino erawal dari menghangatnya suhu muka laut Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, lalu menggeser pola hujan hingga ke Nusantara.

Apa Itu El Nino?

Fenomena ini merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian tengah dan timur melebihi kondisi normalnya. Penulisan bakunya El Niño, istilah Spanyol yang berarti “anak lelaki”, karena nelayan Peru dahulu menyadari gejalanya menjelang Natal.

Pemanasan tersebut menarik pusat pembentukan awan hujan menjauh dari perairan Indonesia menuju Pasifik tengah. Akibatnya, wilayah Nusantara kehilangan sebagian pasokan uap air dan mengalami defisit curah hujan.

Hubungannya dengan La Nina dan ENSO

Ketiga istilah tersebut satu paket. ENSO (El Nino–Southern Oscillation) merupakan payung besar yang menggambarkan interaksi laut dan atmosfer di Pasifik, sedangkan fase panas dan fase dinginnya dikenal sebagai El Nino serta La Nina.

  • Fase panas — laut Pasifik tengah-timur menghangat, Indonesia cenderung kering.
  • Fase dingin (La Nina) — perairan itu mendingin, Indonesia justru berpotensi lebih basah.
  • Fase netral — suhu berada di kisaran normal dan pola hujan mengikuti siklus musiman biasa.

Siklusnya tidak teratur. Rata-rata pergantian fase berlangsung setiap dua hingga tujuh tahun, dengan durasi masing-masing episode sekitar sembilan bulan sampai dua tahun.

Cara Mengukur Kekuatannya

Para ahli mengukurnya melalui anomali suhu muka laut di kawasan pemantauan bernama Nino 3.4. Angka positif menandakan pemanasan, angka negatif menunjukkan pendinginan.

Kategori intensitas berdasarkan anomali suhu muka laut Nino 3.4
Anomali Kategori
+0,5 s.d. +0,9°C Lemah
+1,0 s.d. +1,4°C Moderat
+1,5 s.d. +1,9°C Kuat
≥ +2,0°C Sangat kuat

Selain indeks tersebut, BMKG memantau Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. IOD positif memperparah kekeringan karena mendorong uap air dari barat Indonesia ke arah pesisir timur Afrika.

Penyebab Terjadinya Fenomena Ini

Pemicunya terletak pada melemahnya angin pasat timuran yang biasanya mendorong massa air hangat ke arah barat Pasifik. Ketika angin itu kendur, air hangat tertahan dan menyebar balik ke timur.

Empat rangkaian proses berlangsung berurutan:

  1. Angin pasat melemah sehingga dorongan massa air hangat ke barat berkurang.
  2. Air hangat bergeser ke Pasifik tengah dan timur, menaikkan suhu muka laut di sana.
  3. Upwelling terhambat di perairan Peru, membuat air dingin kaya nutrien gagal naik ke permukaan.
  4. Pusat konveksi berpindah mengikuti air hangat, sehingga awan hujan terbentuk jauh dari Indonesia.

Perpindahan pusat konveksi inilah yang paling terasa bagi Nusantara. Wilayah yang biasanya menerima hujan justru kehilangan pemicu pembentukan awan.

Status El Nino 2026 di Indonesia

Data BMKG menunjukkan intensitas 2026 sudah melampaui ambang kategori kuat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc. menyampaikan pada konferensi pers 30 Juli 2026 bahwa puncaknya berpotensi menembus level kuat bahkan sangat kuat.

Indikator iklim Indonesia menjelang puncak kemarau 2026
Indikator Nilai
Anomali Nino 3.4 (Agustus 2026) Di atas +2°C, kategori kuat
Indeks IOD +0,63 (positif)
Wilayah yang telah memasuki kemarau 516 zona musim atau 73,8 persen wilayah
Curah hujan Dasarian III Juli 76,3 persen wilayah bersifat bawah normal
Prakiraan Dasarian II Agustus 95,62 persen wilayah masuk kategori curah hujan rendah
Peluang bertahan hingga awal 2027 Kategori moderat 98 persen, kategori kuat 62 persen

Puncak musim kemarau berlangsung bertahap. Bulan Juli menjangkau 83 zona musim atau 12,26 persen daratan, Agustus melonjak ke 369 zona musim setara 48,84 persen, kemudian September mencakup 169 zona musim atau 25,41 persen.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut indeks ENSO sempat tercatat di angka +1,59 pada awal Agustus, sebelum analisis mingguan berikutnya menunjukkan penguatan melewati +2. Angka resmi terus diperbarui setiap dasarian, sehingga pembaca sebaiknya merujuk rilis terkini BMKG.

Dampak El Nino bagi Berbagai Sektor

Efeknya tidak berhenti pada berkurangnya hujan. Rantai dampaknya merembet ke pangan, air bersih, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi.

Pertanian dan Ketahanan Pangan

Kekeringan panjang memangkas debit irigasi dan memundurkan jadwal tanam. Gagal panen mendorong kenaikan harga komoditas, seperti yang mulai terasa di sejumlah sentra produksi.

BMKG menyarankan petani memilih varietas yang hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam lebih pendek.

Krisis Air Bersih

Sumur warga mengering dan volume waduk menyusut. Pemerintah daerah menetapkan status awas kekeringan meteorologis di seluruh wilayah DIY pada dasarian II Agustus 2026, sementara enam kabupaten di NTT menyandang status serupa.

Distribusi air bersih menjadi andalan sementara, dengan jutaan liter tersalurkan ke wilayah terdampak.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Vegetasi kering menjadi bahan bakar sempurna bagi api. Kombinasi kedua anomali laut itu menaikkan risiko karhutla di provinsi-provinsi rawan, dan kebakaran besar di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada awal Agustus 2026 memperlihatkan betapa cepat api menjalar pada kondisi seperti ini.

Kesehatan Masyarakat

Kualitas udara memburuk ketika asap kebakaran bercampur debu. Kasus infeksi saluran pernapasan meningkat, sedangkan keterbatasan air bersih menaikkan risiko penyakit diare dan gangguan kulit.

Energi dan Ekonomi

Pembangkit listrik tenaga air kehilangan pasokan ketika muka air waduk turun. Sektor transportasi sungai, perikanan tangkap, serta pariwisata alam ikut terganggu, dan tekanan biaya akhirnya sampai ke konsumen.

Perbedaan El Nino dan La Nina

Banyak orang tertukar membedakan keduanya. Tabel berikut merangkum kontrasnya bagi Indonesia.

Perbandingan dua fase ekstrem ENSO
Aspek El Nino La Nina
Suhu muka laut Pasifik tengah-timur Lebih hangat dari normal Lebih dingin dari normal
Anomali Nino 3.4 Positif (≥ +0,5°C) Negatif (≤ −0,5°C)
Curah hujan Indonesia Berkurang, kemarau lebih panjang Bertambah, musim hujan lebih basah
Risiko dominan Kekeringan, karhutla, gagal panen Banjir, tanah longsor, gagal panen akibat kelebihan air

Perlu diingat, keduanya sama-sama merugikan bila tidak diantisipasi. Perbedaannya terletak pada jenis bencana yang mengintai.

Cara Menghadapi Dampaknya

Antisipasi menuntut langkah berlapis, dari rumah tangga sampai pemerintah daerah.

  1. Pantau informasi dasarian BMKG untuk mengetahui prakiraan hujan dan status kekeringan wilayah Anda.
  2. Hemat dan panen air melalui penampungan hujan, perbaikan kebocoran pipa, serta pemanfaatan ulang air rumah tangga.
  3. Sesuaikan pola tanam dengan varietas tahan kering dan jadwal yang mengikuti prakiraan musim.
  4. Perkuat pengendalian karhutla lewat sekat bakar, patroli terpadu, dan larangan membuka lahan dengan membakar.
  5. Siapkan cadangan air bersih di tingkat desa, termasuk pemetaan sumber air alternatif.
  6. Jaga kesehatan dengan memperbanyak minum, memakai masker saat udara berdebu atau berasap, dan membatasi aktivitas luar ruang pada siang terik.

Operasi modifikasi cuaca menjadi opsi tambahan bagi pemerintah, meski efektivitasnya bergantung pada ketersediaan awan potensial di lokasi sasaran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu El Nino secara sederhana?
Fenomena tersebut adalah menghangatnya suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur di atas kondisi normal, yang menggeser pusat hujan menjauh dari Indonesia sehingga kemarau menjadi lebih kering dan panjang.
Berapa lama fenomena ini berlangsung?
Satu episode umumnya bertahan sembilan bulan hingga dua tahun. BMKG memperkirakan episode 2026 masih berlanjut sampai awal 2027.
Bagaimana kondisi El Nino di Indonesia saat ini?
BMKG mencatat intensitasnya sudah menembus kategori kuat dan berpotensi bertahan sampai awal 2027. Intensitas El Nino berada pada kategori kuat dengan anomali suhu muka laut Nino 3.4 melampaui +2°C. Indian Ocean Dipole (IOD) juga positif di angka +0,63. BMKG memperkirakan fenomena ini bertahan hingga awal 2027, dengan puncak musim kemarau melanda 48,84 persen daratan Indonesia pada Agustus 2026.
Apakah suhu udara ikut naik?
Ya, secara tidak langsung. Berkurangnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih leluasa mencapai permukaan, sehingga suhu siang hari terasa lebih terik.
Apa bedanya dengan pemanasan global?
Fenomena ini bersifat siklis dan berulang secara alami, sedangkan pemanasan global merupakan tren kenaikan suhu jangka panjang akibat emisi gas rumah kaca. Keduanya dapat saling memperkuat ketika terjadi bersamaan.
Wilayah mana yang paling terdampak di Indonesia?
Dampak terberat umumnya menimpa Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagian Sumatera bagian selatan, karena wilayah tersebut memiliki pola musim yang paling sensitif terhadap ENSO.
Di mana memantau perkembangan resminya?
Rujuk situs dan kanal media sosial BMKG untuk analisis dasarian, prakiraan musim, serta peringatan dini kekeringan.

Catatan Penutup

Fenomena ini tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya bisa ditekan lewat kesiapan yang dimulai jauh sebelum puncak kemarau tiba. Data BMKG sudah memberi peringatan sejak pertengahan 2026, sehingga ruang antisipasi sebenarnya cukup lebar.

Kunci penanganannya terletak pada tiga hal: pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, dan pencegahan kebakaran lahan. Ketiganya menentukan seberapa besar kerugian yang akhirnya ditanggung masyarakat.