Lewati ke konten utama

BhumiNews

Jurnalisme untuk Bumi yang Lebih Baik

Environment

Puncak Musim Kemarau 2026: Ancaman El Nino & Peringatan BMKG

Puncak Musim Kemarau 2026: Ancaman El Nino & Peringatan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Agustus 2026, mencakup hampir 49% wilayah daratan. Dipicu oleh fenomena anomali suhu laut yang sering disebut sebagai “Godzilla El Nino” dan fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif, kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normal. Dampaknya meliputi ancaman kekeringan ekstrem, penurunan produktivitas pertanian, krisis air bersih, hingga peningkatan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kolaborasi lintas sektor dan modifikasi cuaca menjadi kunci mitigasi.

Kapan Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi?

Berdasarkan data resmi dari BMKG, musim kemarau tahun 2026 datang lebih awal dan puncaknya akan terjadi secara bertahap pada periode Juli hingga September 2026.

Puncak terluas diprediksi jatuh pada Agustus 2026, di mana kekeringan akan melanda 369 Zona Musim (ZOM). Berikut adalah rincian persebaran puncak musim kemarau:

Periode Puncak Jumlah Zona Musim (ZOM) Persentase Daratan Wilayah Terdampak Utama
Juli 2026 83 ZOM 12,26% Sebagian Sumatra, sebagian kecil Jawa, NTT bagian selatan, Papua Timur.
Agustus 2026 369 ZOM 48,84% Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
September 2026 169 ZOM 25,41% Kep. Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, sebagian NTT, Kalsel, dan Papua Pegunungan.

Ancaman “Godzilla El Nino” dan IOD Positif

Tahun 2026 mencatatkan kondisi anomali iklim yang signifikan. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas moderat (98%) hingga intensitas kuat (62%).

Lebih lanjut, laporan riset gabungan yang merujuk pada data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa El Nino tahun ini diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Kombinasi yang sering dijuluki “Godzilla El Nino” ini memicu penurunan curah hujan secara drastis hingga 61,4% di berbagai wilayah Indonesia, mempercepat evaporasi, dan meningkatkan suhu udara secara signifikan.

Dampak Multisektoral Kekeringan Ekstrem

Kombinasi kemarau panjang dan El Nino membawa risiko multisektoral tingkat tinggi. Merujuk pada analisis BMKG, BNPB, dan pakar ketahanan iklim, berikut adalah sektor-sektor yang paling terancam:

1. Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Menurut analisis dari Pakar Pertanian Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), penurunan curah hujan yang drastis sangat mengancam fase pembungaan jagung dan pembentukan polong kedelai. Jika tidak diantisipasi, gagal panen dapat menekan ketahanan pangan nasional dan memicu inflasi pangan.

2. Krisis Air Bersih dan Sektor Energi

Debit mata air dan sumur diprediksi berkurang drastis. Bagi sektor energi, BMKG secara khusus mengimbau agar kapasitas air bendungan dijaga ketat untuk memastikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tidak terganggu.

3. Kesehatan Masyarakat dan Ancaman Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)

Data historis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian LHK menunjukkan bahwa El Nino kuat selalu berbanding lurus dengan lonjakan Karhutla. Asap dari Karhutla berpotensi memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sementara krisis air bersih dapat memicu penyakit akibat sanitasi yang buruk seperti diare.

Strategi Mitigasi: Langkah Antisipasi yang Harus Dilakukan

Untuk meminimalisasi kerugian, beberapa strategi adaptasi dan mitigasi yang direkomendasikan oleh BMKG dan institusi terkait meliputi:

  • Adaptasi Agronomis: Petani direkomendasikan segera menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas yang tahan kekeringan (seperti sorgum atau singkong), dan memanfaatkan teknik irigasi tetes serta mulsa untuk menjaga kelembapan tanah.
  • Revitalisasi Sumber Air: Membangun embung, memaksimalkan sumur dangkal, dan memperbaiki jaringan distribusi air bersih.
  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): BMKG bersama pemerintah daerah melakukan OMC atau teknologi hujan buatan secara situasional dengan menyesuaikan dinamika atmosfer yang sedang aktif untuk mencegah eskalasi Karhutla.
  • Sistem Peringatan Dini: Pemerintah daerah diminta menetapkan status siaga kekeringan lebih dini dan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk intervensi kesehatan dan penyediaan air bersih.

“Informasi pemutakhiran prediksi iklim ini diharapkan dapat menjadi referensi terkini bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah antisipasi lanjutan dan penguatan strategi adaptasi.”Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan puncak kemarau 2026 terjadi di Indonesia?
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang akan melanda hampir 49% wilayah daratan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan Sumatra.
Apa itu fenomena Godzilla El Nino 2026?
Istilah ini merujuk pada fenomena anomali pemanasan suhu laut (El Nino kuat) yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, memicu kekeringan ekstrem dan penurunan curah hujan secara masif di Indonesia.
Tanaman apa yang cocok ditanam saat El Nino?
Pakar pertanian merekomendasikan komoditas yang tahan kering (membutuhkan lebih sedikit air) dan memiliki siklus panen pendek, seperti sorgum, singkong, ubi jalar, dan jagung (dengan manajemen irigasi yang tepat).
Bagaimana cara BMKG mengatasi Karhutla di musim kemarau?
BMKG berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BNPB untuk menggalakkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan guna membasahi lahan gambut dan mengisi waduk, mencegah meluasnya titik api.

Sumber Referensi Kajian:

  • Siaran Pers Resmi BMKG: Prediksi Musim Kemarau 2026.
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) & BNPB – Kajian Risiko Mitigasi Dampak El Nino dan IOD.
  • Analisis Pakar Pertanian & Ketahanan Iklim, Fakultas Sains dan Teknologi Umsida.